Perjalanan Ke Senayan, Piala Asia 2007
indonesia akan menghadapi korea selatan di lanjutan penyisihan grup piala asia 2007. pertandingan akan digelar di gelora bung karno jakarta. sejak jauh hari, ketika jadwal pertandingan sudah ditentukan, kami [me and ay] sudah bercita-cita untuk menyaksikannya secara langsung. tapi hingga dua minggu, seminggu sebelum acara kepastiannya masih belum didapat. saya dari semarang, akhirnya berencana naik kereta ekonomi untuk memotong biaya. kabarnya, tiket 15 ribu [kelas 4] bakalan sulit diperoleh. yang kelas 3, 25 rb, area duduknya di belakang gawang. kedua kelas itu kuanggap tidak memberikan kenikmatan nantinya. akhirnya saya putuskan akan nonton di kelas 2 yang tiketnya seharga 75 ribu. makanya naik ekonomi. jkt-smg pp hanya habis berkisar 200 rb saja. bandingkan kalau naik kereta bisnis yang 75 rb.
tiket juga belum diperoleh hingga [nanti] setibanya di jakarta. optimis sajalah, pasti dapat. kalau yang 15 rb habis, orang-orang mungkin pada milih yg 25. dua hari sebelum jadwal, rombongan yang akan ikut belum pasti siapa saja. hari senin itu, 16 juli, saya ingin tahu jadwal kereta dan harganya, termasuk kemungkinan pesan sebelum kehabisan tiket. mas saya yang [ternyata] baru tahu kalo saya mau ke jakarta nonton bola, tiba-tiba berkata ingin ikut. terpaksa harus berpikir cepat, karena di bandung, ay sedang berencana dan berharap cemas memesan tiket. untungnya tidak dapat, jadi tambahan mendadak untuk satu orang lagi tidak perlu dikhawatirkan.
di stasiun, ternyata tiket ekonomi baru dijual di hari-h keberangkatan. jadi, selasanya saya harus datang seawal mungkin, jam 11 katanya loket mulai dibuka. hari selasa, sudah jam 11, tapi saya belum pergi ke poncol, stasiun kereta ekonomi. entah kenapa, tapi salah satunya karena hari itu panas. rencana waktu itu, berangkat setelah shalat dan makan. pertanyaan terakhir buat mas saya, jadi ikut ato tidak. jadi katanya. so, siang itu beli dua tiket. sampai di stasiun jam 1 lewat dikit, loket belum buka! katanya jam dua. untung gak datang jam 11. sepertinya di stasiun tidak banyak calon pembeli, seperti yang dibayangkan. dan setelah jam 2, benar, yang antri beli tiket kurang dari 5 orang. masalah tiket kereta beres. bagaimana dengan tiket pertandingan? sore itu, alwin dan zaky udah nyoba dateng ke senayan selasa sore, tapi katanya habis. jadi tiket hanya bisa dibeli di hari h pertandingan.
kami dari semarang sampai di jakarta jam 3.30 pagi! nyari tempat istirahat akhirnya dapet masjid stasiun. nunggu sampe jam 6, akhirnya berangkat ke senayan. caranya? karena di semarang udah pernah liat peta koridor transjakarta, jadi tahu kalo mau ke senayan dari senen naik tj harus ke harmoni dulu. pikir saya, ke harmoni trus ke senayan itu mbayar dua kali. jadi saya lebih milih jalan ke harmoni. mas saya setuju, jadi aja jalan menyusuri busway.
sampai di halte gambir I, saya punya cerita menarik. waktu itu, karena tidak tahu harmoni seberapa jauh, kami menanyakannya kepada penjaga loket, seorang wanita, lagi sarapan rupanya. "mbak, kalo harmoni berapa halte lagi?", "empat" katanya. "kalau jalan, jauh gak ya?" sambil senyum yang tidak enak dilihat dia menjawab "SOK AJA KALO MAU" [kapital di sini bukan berarti dikatakan dengan nada yang keras/ secara kasar, tetapi saya tekankan beda antara pertanyaan dengan jawaban yang diberikan]. "mbak, (jawaban) pertanyaannya (harusnya) bukan gitu!!!" akhirnya dia jawab "sekitar 1-1,5 km". heran gak sih, seorang pegawai yang bersentuhan langsung dengan pelanggan kok seperti gak ada etika kerjanya? waktu itu sekitar jam 7 pagi [kalo-kalo pengurus tj mau mencari tahu siapa wanita itu, hihihihi].
akhirnya, kami naik tj ke harmoni. lagi-lagi saya mengalami kejadian lucu. tiket tj yang harusnya dimasukin ke lubang tiket, saya tarik lagi dan saya pegang hingga masuk peronnya. sama salah satu mas penjaga [ada 3 penjaga di situ] akhirnya memanggil saya dan meminta tiket yang saya pegang. dalam hati saya bilang, ya maap, baru pertama kali naik tj. kalo kata tukul, ndeso, katrok, hehehehe....
di atas bus tj, saya gak dapet duduk sampai di harmoni. sesampainya di harmoni, ternyata buat ganti bus gak perlu bayar lagi. cuma keluar dari bus lalu menunggu di pintu yang diinginkan. begitu pintu bus dibuka, beberapa orang berebutan setengah berlari untuk dapet antrian yang di awal. malah, saat bus baru datang ada orang yang saat mau masuk ke bus salah satu kakinya sempat terperosok di celah antara bus dan peron. untung gak "nyemplung".
di senayan, kami masuk melalui pintu yang deket beberapa hotel (barat ya? ga tau arah). padahal, kalau turun dari jembatan busway, ada pintu di situ yang ternyata bisa dilewati. saya dimarahi kakak saya karena ide sayalah untuk jalan memutar. singkat cerita, kami sampai di gbk, kemudian berjalan mengelilinginya untuk mencari loket penjualan tiket. dari gate 8, kami berjalan hingga melihat patung rama yang kecil, dan berfoto di bawahnya. sebenernya di patung rama yang besar kami ingin foto juga, tetapi sudah keburu dikuasai orang. kemudian kami berjalan lagi, dan tiba-tiba ada beberapa orang berlarian menuju salah satu pintu dan mengarah keluar. kami menangkap kesan bahwa mereka lari menuju loket yang menjual karcis. kami pun ikut ke sana dengan berjalan lebih cepat.
di gerbang, ada dua loket yang terpisah dengan banyak orang yang sudah mengantri. akhirnya kami ikut antri di situ. waktu itu sekitar jam 830an. kami belum makan pagi dan loket juga sebenarnya belum dibuka. ya mau bagaimana lagi, kalau ditinggal makan dulu, bisa-bisa dapet antrian lebih belakang. setelah menunggu lama, datanglah dua buah mobil yang dibilang membawa tiket yang akan dijual. mungkin itu jam 9an. antrian pun mendadak merapat serapat-rapatnya. gak akan bisa gerak lebih bebas lagi deh. rapat itu sendiri terjadi cukup lama, karena walaupun tiket (sepertinya) sudah ada di loket, loket belum dibuka. orang-orang pada nyeletuk-nyeletuk aneh-aneh, dari maki-maki hingga kata hewani. bahkan para penjual tiket sudah ada di dalam loket rasanya lama sekali loketnya dibuka. dorongan ke depan dan belakang sering banget terjadi. marah-marah deh yang kedorong dan kejepit.
rombongan ay dkk (total 4 orang) yang berangkat dari kelapa gading sampai di senayan saat di depan loket sudah ada banyak sekali orang. karena kami gak bisa pergi dari antrian saya coba nitip ke mereka buat dibeliin makanan. tapi gak terwujud deh. entah mereka sampai jam berapa, tapi saya akhirnya bisa melihat salah satu dari mereka. walau gitu, kami gak bisa berkomunikasi karena emang susah banget.
antrian juga gak beres. harusnya hanya ada 8 baris maksimal, tapi yang di bagian pinggir terus mendesak yang di tengah. jadi celetukan yang keluar kebanyakan adalah mengusir yang antri di bagian pinggir agar tidak menyerobot. tas yang gendong di dada, membantu mengurangi desakan dari depan-belakang. tapi hasilnya adalah jahitan di tali bahu tas itu kini sudah mulai jebol. gara-garanya dalam keadaan terjepit tas itu harus saya tarik kalau mau keluar dari antrian.
loket baru buka jam 10 lebih. jepitan makin terasa lagi, dan ternyata loket yang menjual tiket 75rb dan 25rb (yang 15 rb dikatakan habis) dibedakan. yang 25 di kanan, 75 di kiri. padahal saya dan mas saya, yang awalnya berdekatan tapi akhirnya terpisah jauh, berada di kanan. kami kan mau beli yang 75. setelah lama menunggu, entah bagaimana akhirnya mas saya sudah berada di depan loket sebelah kiri dan berhasil membeli 6 tiket. jatah seorang sebenernya cuma bisa beli 5 tiket sekaligus, artinya saya sudah tidak perlu antri lagi. akhirnya keluar tanpa beli tiket. sia-sia euy.
setelah keluar antrian dan ngumpul 6 orang, ketahuan kalo ternyata tiket yang satu lagi dibeli dengan nitip ke orang lain. kami kemudian makan dan jalan-jalan. di sana sudah banyak sekali penjual makanan dan atribut merah-putih. kaos, syal, bendera, macam-macam. saya sempet beli kaos seragam timnas warna putih. di bagian punggung ada sablon sayap garuda warna emas. bagus, saya suka modelnya. andang, zaki, dan mas akhirnya beli juga. sementara alwin udah duluan beli yang modelnya beda. kugodain dia, kalo kaos yang kami beli lebih bagus dari punya dia, dan kubilang kalo dia pasti nyesel. tapi ternyata, katanya mau beli yang original sekalian. hehehehe.
di gerbang masuk area gbk kini sudah dijaga polis bersenjata. orang gak bisa sembarangan masuk lagi. untuk masuk, harus nunjukin tiket dan tas yang dibawa harus digeledah. di gerbang kedua juga sudah ada penjaga, bukan polisi, dan tidak perlu mbuka tas lagi. ternyata penjagaan dua lapis ini dilakukan di semua pintu masuk. di dalam, kami ingin mencari masjid untuk tempat shalat dan istirahat. ternyata untuk ke masjid kami harus keluar lagi.
saat makan sebelum masuk gbk, kami mencurigai sesosok calo yang sedang bertransaksi. di lingkungan masjid juga ada ternyata. saya denger dia ngasih harga 125rb, tapi gak tau buat yang kelas mana, 15, 25, ato 75. yang manapun itu, kalo transaksi itu jadi, minimal dia dapet 50 rb.
setelah shalat ashar, sudah banyak orang yang ngantri mau masuk gbk. pintu gerbang cuma muat dilewatin 1 orang. padahal antrian segunung. malah ada juga yang ngantri di depan loket mau beli tiket. polisi yang jaga gerbang kena omel dan makian. bahkan dikasih nyanyian goblok-goblokan. soalnya pintu gak bisa dibuka (gembok rantai gak ada yang punya kuncinya). ternyata, yang punya tiket 200rb ato 15 rb, sama-sama harus ngantri kayak gitu. dalam antrian yang mulai kacau itu, trus ada yang melihat kehadiran glenn artis tea. gak penting sih, tapi saya sebutin aja.
akhirnya, entah gimana, ada seruas pagar yang jebol. yang antri pun pada bubar menuju pagar yang jebol itu. penjagaan juga diperlonggar, tiket cukup diacungin di udara, tas juga gak digeledah. ya iyalah, bisa bayangin berapa lama meriksa tas ratusan orang satu persatu? sejaman kayaknya, jaman es!
di pintu masuk stadion, ada penyitaan botol minum. gantinya, sebuah plastik dan sedotan untuk tempat air yang masih ada di dalam botol. di dalam stadion sudah banyak orang. tim korsel sedang pemanasan dan banyak disorakin. dan ketika timnas mulai latihan, stadion bergemuruh. bp dkk disemangatin, sama puluhan ribu orang. seru banget. kemudian ketika line up dibacakan, setiap nama timnas ditepukin dan disorakin. 11 orang, semuanya! tidak lupa sang pelatih juga.
saat-saat yang saya tunggu akhirnya tiba: menyanyikan lagu kebangsaan kita, indonesia raya. semua penonton berdiri dan nyanyi bersama. setelah lagu selesai, gemuruh di gbk tidak berhenti, berganti dari lagu menjadi: indonesia! tepukan 5 kali! indonesia! dst. sorakan pendukung korsel, yang ada tapi kayaknya cuma dikit, jadi gak kedengeran.
sepanjang pertandingan juga sama, sorakan penonton menyemangati pemain terus membahana. beberapa kali bahkan mexican wave dilakukan.
sayang banget timnas kalah. saat gol korsel terjadi, baru ketahuan di mana pendukung korsel karena hanya mereka yang bersorak. stadion jadi agak sepi. agak lama baru terdengar lagi yel-yel pendukung timnas. tapi penonton di tribun atas (tiket 15rb) mulai berulah dengan melemparkan benda-benda yang jatuh ke tribun bawah dan mengenai beberapa orang. teriakan "kampungan, kampungan" sempat terdengan beberapa saat.
di akhir pertandingan, penonton tetap memberi aplaus kepada pemain. terutama ketika para pemain bertepuk tangan memberikan aplaus kepada penonton. yang bikin saya terkejut, saat pemain korsel melakukan hal yang sama, penonton juga membalasnya, bukan hanya pendukung korsel saja, tapi hampir semua orang. salut saya kepada penonton indonesia yang bisa menerima kekalahan itu dan memberi aplaus kepada tim lawan.
terima kasih timnas. perjuanganmu memang berat, hasil memang tidak begitu memuaskan, tapi yang penting prosesnya sangat memuaskan.
proses kepulangan kami gak usah saya ceritakan. gak penting kayaknya :-).
sebuah pengalaman yang tak ternilai bagi saya. sekalinya menonton sepakbola di stadion, saya menonton timnas di stadion nasional, gelora bung karno, di ajang internasional, piala asia 2007!!!
